Kekurangan Gizi Bisa Mengancam Prestasi Siswa Di Sekolah

mediabeteshelp – Setiap orang tua tentu ingin memiliki anak yang sehat dan berprestasi. Namun, apa jadinya bila anak mudah untuk marah, terlihat lesu, dan menangis berlebihan? Atau, anak merasa sulit berkonsentrasi dengan baik?

Hati-hati, terdapat kemungkinan anak mengalami gejala kurang gizi. Agar anak sehat dan berprestasi, orang tua membutuhkan upaya yang tidak main-main. Selain melatih kemampuan kognitif, konsumsi gizi merupakan salah satu faktor penting untuk menunjang prestasi anak.

Ketika memasuki usia sekolah, kegiatan anak akan bertambah. Selain itu, anak telah memiliki preferensi makanan yang beragam. Anak mulai dapat menentukan makanan yang ingin dia konsumsi.

Di sinilah peran orang tua buat memerhatikan konsumsi vitamin anak amat diperlukan, terutama saat di lingkungan sekolah tidak bisa mensupport atensi itu. Karena, pada umur itu kemajuan kognitif anak, kemajuan fisik anak, dan perihal yang lain sedang berjalan.

Terkait hal itu, GREDU bekerja sama dengan Lemonilo, mengangkat permasalahan di atas melalui webinar bertajuk, “Sehat Itu Cerdas: Bangun Kebiasaan Makan Sehat, Yuk!” pada Rabu, 24 Februari 2021.

Adapun webinar ini mengundang narasumber:

1. dr. Dimple Nagrani, Sp.A, seorang dokter spesialis anak dan pendiri akun instagram edukasi mengenai parenting dan keluarga @happykids_id.

2. Eko Agusnehing Purwaningsih, M.Pd, seorang guru sekolah dasar negeri di Kota Depok.

3. Liliane Melissa yang saat ini menjabat sebagai Business Development Manager Lemonilo.

Beberapa seorang dokter anak, dr. Dimple menjelaskan bahwa perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi anak. Oleh sebab itu, konsumsi gizi seimbang berperan pada prestasi anak bukanlah sebuah mitos.

“Pada 1.000 hari pertama atau usia nol hingga dua tahun, perkembangan otak sangat pesat dan didukung oleh konsumsi gizi seimbang,” ujar dr. Dimple seperti dikutip dari siaran pers GREDU yang diterima Kompas.com, Sabtu (27/2/2021). “Ini adalah masa keemasan yang harus diperhatikan oleh orang tua. Kebiasaan makan anak juga dimulai dari sini,” jelas dr. Dimple.

Sementara Anne, sapaan akrab Liliane menambahkan bahwa penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit kardiovaskuler cenderung disebabkan oleh pola makan yang tidak baik.

“Pola makan masyarakat Indonesia didominasi oleh konsumsi makanan yang tinggi kolesterol, gula, garam, makanan sintetis, dan pengawet. Akibatnya, 73 persen kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit tidak menular,” ungkapnya.